Make your own free website on Tripod.com
xi_sma
Terorisme dan Kekerasan Israel Terhadap Palestina
Home
sejarah
logo sekolah
lagu sekolah
album
pelajar
cool stuff
lagu generasi
berita
tazkirah agama
guestbook
forum
chat room

TERORISME DAN KEKERASAN TSRAEL TERHADAP PALESTINA

Tanah Palestina bagi Zionisme diasumsi sebagai salah satu fondasi fundamentalnya. Dasar proyek pemukiman adalah sebuah proyek yang berupaya untuk membawa Yahudi dari negeri asalnya atau diaspora yang biasa dipergunakan oleh Zionis ke wilayah pemukiman penduduk Palestina. Syarat dasar bagi pemukiman di Palestina adalah dengan cara sebisa mungkin untuk mengambil tanah dari mereka yang memilikinya dan merampasnya dengan cara apa saja bila itu perlu. Untuk alasan ini, Zionisme dan organ-organ lainnya tidak ragu-ragu lagi untuk mengadopsi metoda terorisme untuk dapat menguasai tanah Palestina dalam kapasitasnya sebagai "tanah yang dijanjikan."
Sejak pemukiman pertama Zionis di Palestina berdasarkan pada dua proses evakuasi dan penggantian yaitu dengan mengosongkan wilayah yang dimukimi oleh bangsa Arab dan mengganti mereka dengan Yahudi. Maka dari itu hal ini didasari oleh perampasan tanah dan konsepsi pengosongan tanah dari penduduknya dengan berbagai cara di mana kekerasan dan pembantaian menempati posisi paling sentral. Dan ini yang membedakan pendudukan Zionis dari bentuk dan pengalaman pendudukan lain sepanjang sejarah kuno dan modern. Kebijakan pendudukan Zionis telah jelas di dalam masing-masing benak perencana Zionis dari sejak awal, sejak mereka tetapkan Palestina sebagai wilayah Yahudi. Tidak saja dengan manuver-manuver politik tapi juga dengan cara-cara mendirikan koloni dan keberadaan koloni Zionis yang bersenjata[1] dalam rangka persiapan pembangunan entitas Zionis di wilayah Palestina.
Pada saat yang bersamaan, kita hendaknya tidak membedakan operasi-operasi penggusuran dan pengusiran secara massal rakyat Palestina dari peta perencanaan penjajahan Zionis. Karena hal itu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Setelah itu semua, hal yang kedua tidak dapat dicapai kecuali dengan tercapainya hal yang pertama. Konsekuensinya, bahwa eksistensi penduduk Palestina adalah persoalan politis yang akan menghadang proyek besar Zionis di Palestina. Pergerakan Zionis menganggap hal ini sebagai suatu dilemma yang mereka sebut dengan "persoalan Arab" di Palestina. Orang pertama di dalam sejarah modern Zionisme mengedepankan ide pengusiran atau emigrasi paksa adalah pimpinan Zionis yang bernama Zanghfoul yang pada tahun 1905 mengatakan : "Tidak ada solusi bagi persoalan Yahudi kecuali dengan mengusir warga Palestina dengan pedang, atau mengambil langkah-langkah yang membuat mereka hengkang." Selanjutnya, ide ini diterima secara luas di kalangan pimpinan-pimpinan Zionis lain.[2]
Hal ini juga mefleksikan propaganda Zionis yang menemukan suatu ekspresi dari mereka yang berpartisipasi dalam konferensi Basel tahun 1898 tentang Palestina dalam ungkapan : "Tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah". Yousef Vaits, yang bekerja lama sebagai direktur Dana Nasional Yahudi (Jewish Nations Fund) dan juga sebagai Konsultan Urusan Arab bagi presiden pemerintah Zionis, menulis dalam memoarnya pada tahun 1940 : "Harus jelas bagi kita semua bahwa tidak ada tempat bagi dua bangsa untuk satu negeri. Selama bangsa Arab eksis, kita tidak akan dapat mencapai tujuan sebagai bangsa yang benar-benar merdeka di negeri ini. Hanya ada satu solusi bagi Israel atau paling tidak di bagian barat Israelharus bebas dari orang-orang Arab. Tidak ada jalan lain untuk mencapai ini kecuali dengan mengirim bangsa Arab dari sini ke negeri-negeri jiran. Dan ini artinya mengusir setiap bangsa Arab hingga habis hingga tidak akan ada lagi satu desa Arab-pun yang tersisa. Hanya dengan cari penggusiran seperti itu, negeri ini akan mampun untuk menyedot jutaan saudara-saudara (Yahudi) kita."[3] Lebih-lebih lagi, para pemimpin Zionis memandang pemikiran-pemikiran dan rencana busuk ini sebagai satu hal yang tidak ada pelanggaran atas hak-hak kewarganegaraan Palestina. Sebagaimana mereka juga tidak melihat itu sebagai suatu tindakan teroris. Samha Flaban menyebutkan perkataan ini :"Rencana-rencana pengusiran massal selalu saja muncul dalam berbagai diskusi yang berlangsung antar mereka sekitar oposisi bangsa Arab di Palestina. Namun Weizman dan lainnya tetap menolak untuk mengakui bahwa konsepsi pengusiran massal tersebut adalah tindakan yang tidak bermoral."[4]
Pada akhir tahun 1930-an, ada perjanjian yang telah disepakati antara kaum Zionis perihal pengusiran massal Palestina. Dan dengan dasar ini mereka bentuk suatu komite yang merekrut sejumlah pimpinan pergerakan Zionis. Tujuannya adalah untuk meletakkan langkah-langkah pengusiran warga Palestina, di manapun mereka ditemukan di wilayah Palestina. Tugas-tugas lain komite adalah menarik bangsa Yahudi dunia untuk datang ke Palestina dan menyediakan pekerjaan bagi mereka. Komite ini disebut dengan "Komite Pengusiran" (Transfer Committee)."[5]
Dalam tulisan ini kita akan satukan berbagai langkah yaitu operasi pendudukan, emigrasi paksaan atau praktek mencabuti akar hak hidup bangsa Palestina, dengan maksud untuk menyederhanakan pembedaan. Selain itu juga untuk memperlihatkan kebiadaban tabiat perilaku Zionis terhadap bangsa Palestina dan berbagai komplotan-komplotan lainnya.
Awal Pendudukan dan Masa Mandataris :
Masuknya Zionis ke Palestina dan mulai bermukim di sana dengan tujuan menjajah dimulai dari akhir abad ke 18. Hingga masa akhir abad ke 19 (khususnya hingga tahun 1898), operasi pendudukan Yahudi hanya terbatas dengan membangun 22 pemukiman. Kemudian dengan berdirinya organisasi Zionisme yang sistematis pada awal abad ke 20, pemukiman Yahudi ini melebar mencakup wilayah-wilayah baru di Palestina. Aktifitas pendudukan yang sebenarnya bermula pada tahun 1901 yaitu setelah berdirinya apa yang disebut dengan "Dana Nasional Yahudi." Pada awal Perang Dunia I tahun 1914, jumlah pemukiman Yahudi mencapai 47 dan pada tahun 1918, Yahudi sudah menguasai lebih kurang 2.5% tanah Palestina.[6]
Namun, masa penguasa mandataris Inggris telah menyaksikan satu lompatan yang sangat dramtis dalam jumlah pemukiman Zionis. Yakni sejak pergerakan Zionis mulai menjalin hubungan dengan colonial Inggris untuk mengusir warga Palestina dan merampas tanah mereka kemudian diberikan kepada Zionis yang akan mendirikan pemukiman di sana. Derajat kerjasama antara gerakan Zionis dan kekuatan colonial Inggris dapat diketahui bila membaca tulisan penulis Francis Newton. Francis menulis bahwa ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kekuatan Inggris turut campur dalam menentang warga Palestina di saat terjadi bentrokan antara pendatang Yahudi dan petani Palestina di daerah Al Afoula. Di saat penjajah Yahudi ini berupaya untuk mencegah petani Palestina ini dari menggarap sawah ladang mereka, kekuatan colonial malah memindahkan warga Palestina ini dari tanah mereka dengan paksa dan melarang mereka dari bercocok tanam.
Francis Newton berkomentar dalang ungkapannya : "Undang-undang pemerintahan mandataris bias dan berkiblat kepada penjajah Zionis dan mengosong tanah-tanah Palestina dari penduduk pribuminya. Pemerintah colonial tidak berbuat apa untuk menyetop, bahkan berlaku sebagai ujuk tombak pemaksaan penduduk untuk hengkang dan menangkapi mereka. Semua ini dilakukan dengan permintaan dari pihak pergerakan Zionis.[7]
Pada masa akhir pemerintahan mandataris Inggris, jumlah pemukiman Yahudi kian tumbuh menjadi 304.[8]
Tahun-tahun Sulit :
Dalam syair buat sahabatnya yang bernama Ray Rotberg yang terbunuh dalam satu pertengkaran dengan bangsa Arab beberapa bulan sebelum perang 1956, teroris Moshe Dayan mengakui berkata : "Mari kita hentikan saling menuduh orang yang membunuhnya. Siapa kita sebenarnya untuk mendiskusikan kedengkian dan kemarahan? Delapan tahun sekarang ini sudah berlalu (sejak 1948), dan sebagaimana mereka memandang dari tempat-tempat mereka di Gaza kita rebut tanah dan perkampungan di mana bapak dan kakek mereka tinggal. Kita adalah generasi penjajah dan tanpa topi helem dan senjata, niscaya kita tidak pernah akan membangun satu pohon dan rumahpun."[9]
Ungkapan ini menguak sikap di mana Zionis merampas sebagian besar wilayah Palestina dan derajat di mana mereka bersandar pada senjata dengan harapan dapat mengusir penduduk Palestina dan merampas harta benda mereka. Ben Gurion mengkonfirmasi hal ini di saat berkata : "Kita harus melancarkan operasi-operasi militer sebagai dasar pembangunan pemukiman. Dan ini adalah realitas yang mau tak mau mengharus semua pihak untuk patuh."[10]
Para wali kota dari wilaya Arab Palestina berupaya untuk melindungi harta benda desa dan penduduk dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh komplotan teroris Zionis dengan cara menanda-tangani kesepakatan damai dengan Yahudi.[11] Namun, kesepakatan-kesepakatan ini tidak dapat mencegah kekuatan Zionis dari upaya penyerangan atas wilayah tersebut. Dan contoh yang paling terkenal adalah Dair Yasin, yang menderita pembantaian. Di sini sejumlah wanita, anak kecil dan orang tua harus kehilangan nyawa. Jadi jelas bahwa pakta-pakta non-agresi yang ditanda-tangani antara Palestina dan Zionis tidak ada nilainya bagi kaum Zionis. Pembantaian di Dair Yasin menimbulkan gelombang kepanikan di kalangan rakyat Palestina, menyebabkan mereka harus hengkang dari rumah dan perkampungan mereka karena takut tirani Zionis. Teroris Menachim Begin berkata saat mengomentari hal ini dengan berkata : "Operasi (pembantaian ini) telah membuahkan hasil yang besar dan tidak terduga. Setelah berita Dair Yasin buyar, bangsa Arab terwabah ketakutan dan mulai melarikan diri demi nyawa mereka."[12]
Peristiwa Dair Yasin bukanlah aksi independent yang dilakukan oleh kelompok teroris yang kecil dan acak-acakan. Namun operasi ini masuk dari satu serial rencangan yang dikenal dengan sandi "C-2". Yakni operasi yang mencakup eksekusi operasi teroris di seluruh wilayah Palestina terhadap bangsa Palestina. Di samping itu dengan melancarkan serangan yang berulang-ulang terhadap mereka dengan harapan agar dapat sukses mencapai langkah pertama dalam rangka mengusir penduduk Palestina. Pada tahap kedua, ada satu rancangan yang disebut dengan "Dalt" ditetapkan. Yaitu basis yang dijadikan dasar untuk masuk dalam pertempuran dengan pasukan Arab dan mengusir mereka dari kampung halaman dan kota mereka sesuai dengan resolusi pemisahan (partition resolution) serta mengusir warga Palestina yang masih tersisa.[13]
Menjelaskan metoda teroris yang diadopsi oleh para Zionis dalam mencapai tujuan mereka, Bingal Alon, komandan militer organisasi teroris Palmakh berkata : "Kami hanya punya waktu lima hari yang tersisa sebelum hari yang mengancam itu yaitu Mei 15 (tanggal penarikan mundur kekuatan-kekuatan colonial Inggris). Kami memandang perlu untuk membersihkan wilayah Galilee dari penduduk Arab agar dapat membangun wilayah regional Yahudi di seluruh wilayah dataran tinggi Galilee. Kekuatan kami telah cukup lelah dan lemah oleh pertempuran yang panjang, dan di depan kita terbentang satu tugas yang sangat monumental. Yaitu untuk menutup jalan bagi datangnya invasi Arab. Untuk alasan ini kami telah mencari cara-cara di mana kita dapat menghindar dari penggunaan kekuatan penjaga gawang paling akhir (rear-guard) dan di sana mereka akan memaksa puluhan ribu bangsa Arab yang masih menetap di Galilee untuk pergi. Setelah itu semua, penduduk Arab yang beringas ini akan menyerang penjaga ini bila memang akan terjadi invasi Arab. Kami berupaya untuk menerapkan taktik yang akan bersandar pada hasil yang diakibatkan oleh kejatuhan Safad dan kekalahan bangsa Arab di wilayah yang telah dibersihkan dengan cara menggunakan operasi "matateh" (sapu). Dan taktik ini dapat melaksanakan tugasnya dengan sangat mencengangkan. Saya kumpulkan seluruh wali kota Yahudi yang punya hubungan dengan orang Arab dan meminta mereka untuk berbisik ke telinga mereka bahwa penambahan kekuatan Yahudi telah datang di Galilee. Dan ini berarti Yahudi akan membakar seluruh desa al Hawla. Kabar angin tersebut tersebar di Al Hawla, dan rencana yang ditetapkan berhasil secara sempurna. Kantor polisi yang di Al Khalisa jatuh ke tangan kami tanpa satu tembakan dari pihak kami, dan wilayah yang luas dapat dibersihkan. Bahaya telah dipindahkan, dan ini memungkinkan kita untuk mengorganisir diri kita melawan para penyerang di sepanjang perbatasan tanpa harus merasa takut pada penjaga gawang kita."[14] Ben Gurion mengkonfirmasikan dengan mengatakan : "Bangsa Arab tidak masuk atau menduduki walau satu pemukiman Yahudi pun, bahkan yang paling jauh. Sebelum pasukan Inggris meninggalkan Palestina di mana kelompok Hagana mencaplok beberapa pos Arab dan "membebaskan" Tiberias, Haifa, Jaffa dan Safad. Dan demikianlah bahwa di tempat-tempat di atas kekuatan teroris Hagana diperkirakan memulai aksinya untuk membersihkan orang Arab pada malam yang disebut dengan "Malam mencapai Kekuasaan" (Mei 14, 1948)."[15] Jadi sebelum masuknya pasukan Arab ke wilayah Palestina, organisasi-organisasi teroris Zionis telah mengatur strategi untuk dapat menguasai Palestina dan merubahnya sebagai basis untuk menepati angan-angan Zionis yang tersisa yaitu mendirikan "Kerajaan Israel Raya". Dan satu hari sebelum berakhirnya pertempuran, komplotan-komplotan Yahudi telah berhasil menghancurkan sekitar 472 perkampungan dan kota-kota Palestina, membantai kaum hawa, orang tua renta dan anak-anak.[16]
Peralihan, 1948-1967 :
Di saat kekuatan Zionis mulai bergerak pada tahun 1948 untuk mengepung dan menginvasi wilayah Palestina satu per satu. Sebagian besar penduduk sipil berlari jauh ke belakang garis musuh. Pada titik ini, pasukan militer Zionis mulai menguasai harta benda warga yang tertinggal dengan maksud agar harta benda tersebut diserahkan ke otoritas local Yahudi atau para pimpinan penjajahan. Mereka mulai menempatkan Yahudi di tempat-tempat yang ditinggalkan warga Palestina tadi yang terkucar kacir dan menjadi gelandangan di seluruh penjuru wilayah, mencari selamat dan perlindungan menghindari terror Zionis yang mereka rasakan.
Ketika Ben Gurion bergerak untuk menginspeksi Jerusalem Barat, ia berkata bahwa Jerusalem telah lama tidak didiami oleh Yahudi dalam jumlah besar sejak penghancurkan kerajaan Sulaiman. Dan sekarang di sini di Jerusalem Barat tidak ada satu bangsa Arab pun. Jadi disaat ia mengunjungi kota Haifa dan melihatnya rata dari bangunan-bangunan yang tercerabut dari fondasinya yang tentu saja kosong dari penduduk aslinya bangsa Arab. Ia berkata dalam keterheranan : "Kita akan isi tempat ini dengan penduduk Yahudi yang kembali akan membangun dan merestorasinya kembali yang akan menjelma menjadi kota yang indah dari yang sudah-sudah." Dan setelah terheran-heran menyaksikan kondisi yang tak terduga olehnya atas apa yang ia dapatkan di Jerusalem dan Haifa, ia memerintahkan agar seluruh bangsa Arab diusir dari seluruh wilayah yang dialokasikan untuk Yahudi sesuai dengan resolusi partisi, dengan cara apapun."[17]
Proses substitusi masyarakat Palestina dengan penduduk penjajah telah mencapai proporsi yang sangat tak dapat dipercaya. Menurut laporan bahwa perselisihan akan pecah antara tetangga sesama pemukim Yahudi atas ladang dan tanaman yang akan didapat dari yang ditinggalkan Arab. Zionis bahkan membakar sawah ladang yang ada untuk menghindari para petani Arab dari bercocok tanam atau berkumpul-kumpul saat panen tiba, dengan tujuan agar mereka hengkang. Kendati demikian, akhirnya mereka menyadari bahwa mereka perlu rumah yang siap pakai dan sawah ladang yang siap ditanami. Maka dari itu mereka memaksa dan mengusir penduduk asli Palestina untuk pergi dan tanpa merusak harta benda mereka.[18] Selain itu, pemerintahan Zionis yang masih baru bersandar pada sejumlah prosedur untuk menjalankan kebijakan evakuasi. Seperti contoh, ia melarang gerakan kemerdekaan dan tetap mempertahankan pemberlakuan perundang-undangan keadaan darurat warisan Inggris. Ia juga menghancurkan tempat-tempat ibadah agama Islam dan Kristen dengan jumlah yang diperkirakan sekitar 350 gereja dan masjid.[19]
Pada bulan Mei, 1949, Zionis telah berhasil membangun sekitar 1.947 tempat pemukiman/koloni yang dibangun di atas reruntuhan desa dan tempat-tempat lain yang telah ditinggalkan oleh penduduk Arab yang lari dari terror atau dipaksa hengkang. Pada bulan Oktober di tahun yang sama, sekitar 25.255 imigran Yahudi mulai dating di entitas Zionis ini dari sejumlah negara-negara yang berbeda.[20] Dan sebagai indikasi pentingnya imigrasi paksa dan pengambilan paksa rumah buat proyek Zionis, Zionis telah mendemonstrasikan betapa pentingnya wilayah perkampungan dan kota Palestina yang telah dihancurkan. Yaitu perkampungan dan kota yang telah ditinggalkan oleh penduduknya secara terpaksa dengan satu acara peresmian pemukiman Yahudi baru yang dibangun tepat di atas puing-puing pembantaian Dair Yasin terjadi. Hal ini terjadi hanya satu tahun dari peristiwa tersebut. Acara ini dihadiri oleh beberapa para menteri Parta Buruh, para Rabbi dan wali kota.[21]
Setelah berdirinya entitas Zionis, pemerintahan ini mengeluarkan beberapa perundang-undangan yang sejalan dengan tujuan dan cita-cita proyek Zionis. Di antara undang-undangan ini adalah "undang-undang pulang kampung" atau yang disebut dengan "law of return" yang dikeluarkan pada bulan Desember 1951. Dan sesuai dengan peraturan tersebut seorang Yahudi berhak untuk masuk ke Israel dan menjadi penduduk di sana. Dan ini diikuti dengan legeslasi lain yaitu "undang-undang nasionalitas" atau yang disebut dengan "nationality law" pada tahun 1952. Menurut perundangan ini bahwa setiap Yahudi yang berimgrasi ke Israel dianggap sebagai warga negara Israel. Jadi, dari sejak saat itu ketika warga Palestina sudah dikeluarkan dari bumi pertiwi mereka mereka sudah dilarang untuk kembali ke tempat asal mereka. Dan Yahudi telah memberikan hak "abadi" kepada warga Palestina.[22] Pada tahun 1965, entitas Zionis kembali menggolkan legislasi baru di mana setiap orang yang telah meninggalkan wilayah yang dijajah oleh Israel dan bepergian ke tempat di luar Palestina atau ke tempat yang dikuasai oleh orang Arab, maka mereka dianggap sudah beremigrasi dan meninggalkan harta bendanya. Dan mereka sudah dianggap tidak berhak lagi terhadap tanah dan sekarang sudah menjadi milik negara. Berkat undang-undang ini, entitas Zionis berhasil menguasai sekitar 2 juta hektar tanah milik orang Arab, ditambah dengan 2.000.990 hektar tanah di mana terdapat sekitar 73.000 kamar rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Selain itu, sekitar 8.700 tempat-tempat komersial di pedesaan dan kota yang ditinggalkan oleh pemiliknya, lengkap dengan seluruh perabot rumah tangga yang ada.[23]
Dari hal yang tersebut di atas, kita boleh mengatakan bahwa dimasa antara 1948 hingga 1967, mimpi Zionis untuk mendirikan entitas Zionis di tanah tumpah darah bangsa Palestina dan mengusir sebagian besar mereka (yaitu sekitar 78% dari keseluruhan wilayah Palestina) telah mereka penuhi. Periode ini juga menyaksikan peningkatan intensitas proses pelenyapan eksistensi Arab dan menggantikan mereka dengan bangsa Yahudi. Pada masa tersebut ketidak-berdayaan bangsa Arab yang berada di dalam negara Yahudi terus diupayakan dengan segala daya dan upaya. Untuk hal itu, seluruh perundang-undangan (dengan segala dukungan negara) dilegislasikan dan begitu juga halnya dengan operasi-operasi pengusiran dan perampasan di kantong-kantong bangsa Arab yang tersisa.[24]
Sejak Tahun 1967 :
Penjajahan entitas Zionis terhadap territorial Arab di tahun 1967 dianggap sebagai kemajuan yang sangat fundamental dalam menyelesaikan proyek Zionis, yaitu sejak seluruh wilayah Palestina dan wilayah lainnya dapat dikuasai oleh Zionis. Dari tahun ini ke tahun-tahun berikutnya, pembangunan pemukiman yang tersebar di berbagai wilayah yang dikuasai dimulai. Dengan trend mendirikan pemukiman yang kian meningkat dari masa yang belum pernah terjadi, ada tekanan khusus untuk mendirikan pemukiman di dalam atau sekitar kota-kota besar Arab. Di sana mereka juga bernisiatif untuk mendirikan blok-blok pemukiman yang terdiri dari beberapa pemukiman dengan jarak tempuh satu sama lain yang tidak terlalu jauh. Porsentase tanah yang sudah dikuasai oleh penjajah di wilayah Tepian Barat sekarang ini sudah lebih dari 50%. Dan pada tanggal 30 Juli 1980, Jerusalem secara resmi dianeksasi oleh Israel. Pada tanggal 14 Desember 1982, Dataran Tinggi Golan juga dianeksasi, sementara sejumlah wilayah lainnya juga terancam akan mengalami hal yang serupa yaitu upaya Yahudisasi secara gradual yang pada akhirnya aneksasi secara utuh.[25] Zionis memandang pemukiman di Tepian Barat dari satu sudut pandang yang strategis, karena mereka berasumsi bahwa itu akan menjadi fondasi mendasar bagi penguasaan wilayah Tepian Barat secara keseluruhan. Dan ini pada gilirannya akan menjadi sarana paling sukses untuk mengepung kota-kota Arab dan perkampungannya serta mengusir mereka untuk keluar beremigrasi. Sebagaimana Mordechai Chibouri berkata dalam pidato peresmian pemukiman Inab dekat Inabata di pegunungan Nablus : "pembangunan pemukiman yang terus berlangsung adalah soko guru pergerakan Zionis di Tepian Barat. Hal ini merupakan satu-satunya jalan untuk menggagalkan inisiatif perdamaian apapun yang bertujuan untuk mengembalikan Judah dan Samaria kepada orang asing. Eksistensi mayoritas Arab di Tepian Barat tidak seharusnya menghalangi otoritas Israel untuk terus melanjutkan proses pemukiman. Saya dilahirkan di Batah Takfa, yang dahulu dikelilingi oleh sejumlah perkampungan orang Arab seperti Kufr 'Ana, Abi Kishk dan Al Khayria. Namun sekarang tidak ada jejak perkampungan itu lagi. Dan semua yang tertinggal adalah Batah Takfa."[26]
Kendati ada keserupaan di antara berbagai proyek pemukiman Zionis, aktifitas pemukiman setelah 1967 dapat dibedakan dalam dua cara : [27]
1- Ini adalah pemukiman resmi yang diawasi dan didanai oleh pemerintahan Israel Zionis di luar anggaran belanja nasional negera. Sementara itu peranan Zionis lain dan organisasi pemukiman hanya terbatas pada upaya mendukung upaya-upaya pemerintah dalam hal ini.
2- Pemukiman ini dibangun di wilayah-wilayah yang masih tidak didiami oleh bangsa Arab, yang merepresentasikan populasi mayoritas yang besar, dan di wilayah-wilayah yang dimiliki oleh bangsa Arab. Jadi, operasi-operasi pemukiman ini erat hubungannya dengan tujuan untuk mengusir bangsa Arab yang masih berdiam di Palestina dengan maksud untuk menyukseskan proyek pemukiman ini.
Bagi para petinggi Zionis untuk menghindari perubahan demografis yang disebabkan oleh kebijakan ekspansionis Israel yang merampas Tepian Barat dan wilayah negara Arab lain, pasukan Zionis telah melancarkan operasi-operasi termasuk melibas seluruh wilayah Palestina, perkampungan dan tempat-tempat pengungsi sejak wilayah Arab diduduki pertama kali. Bangsa Palestina telah diusir dari kampung halaman mereka ke luar dan di perbatasan-perbatasan Palestina. Di sana juga terjadi operasi perampasan hak penguasaan tanah dan pembangunan pemukiman Yahudi terus digalakkan baik di tengah kota-kota Arab atau sekitar mereka, atau di tengah desa-desa Arab yang tersebar di wilayah pegunungan Tepian Barat serta di lembah-lembah Palestina. Pada tahun 1967, distrik Magharibah di dalam tembok Jerusalem juga dirobohkan, begitu juga dengan Baytar Nouba, Yalo dan 'Amwas ke sebelah barat Ramallah di wilayah Latroun. Demikian halnya dengan Al 'Ajajira, Al Makhzouq dan Al Satariya di wilayah tanah rendah. Masyarakat di tengah seluruh wilayah ini dan yang berada di tengah tempat pengungsi di Jericho telah terkocar kacir dari rumah mereka.[28] Dan agar supaya kampanye-kampanye dapat membuahkan hasil yaitu tersebarkan bangsa Palestina, kebijakan Zionis yang dengan kekuatan brutal diikuti dengan kampanye teroris yang bertujuan untuk menakuti pihak sipil untuk meninggalkan kampung halaman mereka. Hal ini terjadi pada tahun 1947-1948. Sebagai contoh, di kota Ramallah, anggata tentara Zionis menyerang dan membunuh beberapa orang Palestina dan membakar mayat-mayat mereka.[29]
Kebejatan terorisme Zionis terhadap bangsa Palestina dapat dilihat secara jelas dari salah seorang anggota komplotan pasukan Zionis yang menceriterakan apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina yang berusaha untuk kembali ke kampung halaman mereka paska perang 1967. Ia mengatakan : "Orang-orang Palestina berusaha setiap malam untuk kembali ke rumah mereka dengan menyeberangi Sungai Jordan ke Tepian Barat. Kita bangun brikade di sepanjang sungai dan kami menerima perintah dari komandan untuk menembak siapa saja yang menyeberangi sungai. Baik itu laki, wanita atau anak kecil, termasuk orang tua rentah. Bahkan beberapa anak kecil terbunuh. Kemudian pada hari berikutnya, kami melakukan operasi pembersihan dan menyapu setiap mayat yang ditemukan. Bila kami temukan jasad yang masih hidup atau terluka maka kami matikan mereka, kemudian meletakkan kotoran di atas jasad mayat bila jumlahnya tidak terlalu banyak. Dan kalau jumlah mereka banyak, kita panggil bulldozer militer untuk menanam mereka demi memelihara lingkungan."[30]
Akibat praktek-praktek teroris atas bangsa Palestina ini, Zioinis sukses mencapai impian mereka untuk mengusir warga sipil Palestina dari tanah tumpah mereka. Populasi Arab di Tepian Barat sebelum penjajahan Israel pada tahun 1967 diperkirakan sekitar 845.000 yang mana pada akhir tahun tersebut berjumlah 600.000. Di wilayah Jalur Gaza, populasi Arab sebelum penjajahan Israel pada tahun 1967 sekitar 385.000, dan pada akhir tahun yang sama berjumlah 380.000.[31]

Tahun Tepian Barat Jalur Gaza
1967-68 38,700 44,700
1969-74 13,800 12,700
1975-79 61,100 21,100
1980-82 32,900 10,500

Jadi, terorisme Zionis berhasil memaksakan emigrasi ribuan warga Palestina dari Tepian Barat dan Jalur Gaza ke Jordan dan beberapa negara Teluk. Lebih dari itu, operasi pengusiran ini terus berlangsung, dengan pengusiran secara individual adalah cara yang paling umum dipraktekkan. Sementara itu otoritas Zionis terus mengadopsi metoda yang sama seperti yang dipraktekkan di tahun 1948.
Jadi jelas bahwa entitas Zionis mengadopsi konsepsi menerapkan status quo dengan cara-cara menkonstruksi realitas material guna menyokong tujuan-tujuan politis dan menjadikan proses pemukiman sebagai tonggak aplikasi metoda ini. Otoritas entitas Zionis memang tidak puas dengan mengumumkan hak mereka untuk menganeksasi tanah Arab dan menguasai mereka. Bahkan, mereka menyokong klaim-klaim ini dengan memberikan fasilitas, tempat tinggal dan seluruh pemukiman. Dan ini diikuti dengan memindahkan orang-orang emigran Yahudi untuk tinggal di fasilitas yang telah disediakan untuk mengkonfirmasik hak-hak yang mereka klaim selama ini atas wilayah tersebut. Entitas Zionis mengadopsi kebijakan ini dengan tujuan untuk mewujudkan pengaruh dan memperluas control sebagai penjelmaan dari impian "Israel Raya". Dalam ungkapan Golda Meir, mantan Perdana Menteri Israel, "Kita tidak, dan tidak akan, mengidentifikasi perbatasan kami. Di mana saja kita berdiam dan di mana saja kita mampu mempertahankan negeri kita, di sana adalah perbatasan kita."[32] Maka dari itu, realitas ancaman Zionis muncul di dalam ungkapan-ungkapan, realitas dan sikap para petinggi entitas Zionis yang terus mendorong imigrasi Yahudi ke tanah Palestina inheren dalam ajaran agama, nasionalis dan terminology ideologis. Namun, fakta persoalan yang sebenarnya bahwa mereka bukanlah apa-apa, tapi upaya untuk menciptakan tujuan-tujuan sebenarnya menjadi ambigu dan sulit dipahami. Yaitu tujuan-tujuan yang berdasar pada ekspansi, agresi dan perlunya untuk menyediakan "factor manusia" agar adapat meluncurkan perang-perang agresi, melanjutkan pemukiman dan pada berikutnya me-Yahudisasi wilayah yang telah dijajah, mengabadikan penjajahan dan mengusir terus bangsa Palestina.






[1] Dr. Kamal Abd al-Fattah, "Zionist Settlement in Palestine, 1870-1988", in Dr. Abd al-Aziz al-Dawri (ed.), The Palestinian Issue and the Zionist-Arab Struggle, Part II, Section II, Secretariat General of the Union of Arab Universities, p. 723.


[2] Ibrahim Abu Zahra, The Zionist Movement, Colonialism and the Palestinian Expulsion "Transfer", Hebron Collegiate Association, Hebron, 1993, p. 56.


[3] The Palestinian Encyclopedia, Part I, Damascus, 1984, p. 583.


[4] Abd al-Fattah, op. cit., p. 731.


[5] Abu Zahra, op. cit., p. 43.


[6] Dr. Adnan al-Sayyid Husayn, Expansion in Israeli Strategy, Beirut: Dar al-Nafa'is, 1989, p. 31.


[7] Abu Zahra, op. cit., p. 53.


[8] Abd al-Fattah, op. cit., 726.


[9] Dr. George Tu'ma, "Resources for the Study of Zionist Terrorism", in the Shu'un Filastiniyah [Palestinian Affairs] magazine, No. 25, September 1973, pp. 49-50.


[10] Samir Ahmad Ma'touq, The Geographical Basis for Zionist Settlement Colonialism in the West Bank, 1967-1985, Amman: Dar al-Bashir, 1992, p. 51.


[11] Salih al-Shar', Palestine: Reality and History, Amman: Maktabat Majdalawi, 1996, p. 220.


[12] Menachem Begin, The Revolt, London, 1st Edition, 1972, p. 165.


[13] Menachem Begin, The Revolt, London, 1st Edition, 1972, p. 165.


[14] The Palestinian Encyclopedia,, Part I, op. cit., pp. 585-586.


[15] Ibraham al-Abid, On Violence and Peace: A Study in Zionist Strategy, Beirut: PLO, Markaz al-Abhath [Research Center], 1967, p. 35.


[16] Abd al-Jawad Salih and Dr. Walid Mustafa, Palestine: Mass Destruction of Palestinian Villages and Zionist Settlement Colonialism Over One Hundred Years (1882-1982), London: Markaz al-Quds lil-Dirasat al-Inma'iya (The Jerusalem Center for Development Studies), 1987, p. 15.


[17] al-Shar', op. cit., p.223.


[18] Dr. Yazid al-Sayigh, "Zionist Policy to Uproot the Palestinians", Shu'un Filastiniya, No. 192, March 1989, p. 93.


[19] Abu Zahra, op. cit., p. 77.


[20] al-Shar', op. cit., p. 225, paraphrased.


[21] al-Sayigh, op. cit., p. 93.


[22] Abu Zahra, op. cit., p. 68.


[23] al-Shar', op. cit., p. 202.


[24] Abd al-Fattah, op. cit., p. 741.


[25] Khalid 'Ayid, Settlement Colonialism of Occupied Arab Territories During the Likud Era, 1977-1984, Nicosia: The Foundation for Palestinian Studies, 1986.


[26] Abd al-Fattah, op. cit., pp. 741-742.


[27] Dr. Nizam Barakat, Israeli Settlement in Palestine: Between Theory and Application, Riyadh: Kind Sa'oud University, 1985, pp. 89-90.


[28] Abd al-Fattah, op. cit., pp. 745-746.


[29] Abu Zahra, op. cit., p. 81.


[30] Ibid.


[31] Barakat, op. cit., p. 142.


[32] Abu Zahra, op. cit., p. 50.